Nostalgia Menu Buka Puasa Era 1990-an, Sederhana namun Penuh Kenangan

INDIKATOR – Ramadan selalu menghadirkan suasana khas yang membekas di ingatan. Bagi masyarakat Indonesia yang tumbuh di era 1990-an, momen berbuka puasa identik dengan hidangan sederhana, suasana kekeluargaan, serta tayangan televisi religi menjelang azan magrib. Meski belum seramai tren kuliner saat ini, menu buka puasa tahun 90-an justru menghadirkan kesan hangat dan penuh makna.

Minuman manis menjadi sajian utama saat berbuka. Es sirup merah dengan campuran susu kental manis hampir selalu hadir di meja makan. Merek seperti Marjan dan ABC begitu melekat dalam ingatan masyarakat sebagai pelengkap Ramadan. Selain itu, es blewah dan es buah sederhana dengan campuran kolang-kaling serta cincau juga menjadi primadona takjil kala itu.

Menu tradisional seperti kolak pisang dan ubi rebus berkuah santan menjadi hidangan wajib di banyak rumah. Aroma gula merah dan santan yang mengepul dari dapur menjelang magrib menghadirkan suasana khas Ramadan. Kolak bahkan kerap dibagikan kepada tetangga sebagai bentuk kebersamaan dan solidaritas sosial.

Untuk kudapan pembuka, gorengan seperti bakwan, tahu isi, dan tempe mendoan menjadi pilihan favorit. Aneka kue basah pasar seperti dadar gulung, kue lapis, dan putu ayu juga sering tersaji. Saat itu, pilihan takjil masih didominasi jajanan tradisional yang mudah ditemukan di pasar-pasar kampung.

Setelah salat Magrib atau Tarawih, hidangan utama biasanya berupa masakan rumahan seperti sayur asem, opor ayam sederhana, sambal goreng kentang, atau ikan goreng dengan lalapan. Menu tersebut mencerminkan pola konsumsi masyarakat yang tidak berlebihan namun tetap memenuhi kebutuhan gizi setelah seharian berpuasa.

Suasana berbuka puasa era 90-an juga tak terlepas dari tayangan televisi religi yang dinanti keluarga. Serial seperti Lorong Waktu menjadi tontonan favorit yang menemani waktu menjelang berbuka. Kebersamaan keluarga di ruang tamu dengan televisi tabung menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi Ramadan masa itu.

Kini, di tengah beragamnya pilihan kuliner modern dan maraknya tren makanan viral, banyak masyarakat yang merindukan kesederhanaan menu buka puasa era 1990-an. Ramadan kala itu mungkin tidak semewah sekarang, namun nilai kebersamaan, kesahajaan, dan rasa syukur justru terasa lebih kuat dan membekas hingga hari ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *