INDIKATOR – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengingatkan (Bank Pemerintah Daerah) bank NTT untuk mengelola bank NTT dengan lebih lebih jujur serta terbuka dan berhati-hati lantaran keuntungan pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dari Bank NTT mengalami penurunan drastis pada tahun 2022.
Ketua DPRD NTT, Ir. Emi Nomleni dalam pidatonya pada Rapat Paripurna Penutupan Masa Persidangan I Tahun Sidang 2022-2023 Dan Pembukaan Masa Persidangan II Tahun Sidang 2022-2023 DPRD Provinsi NTT pada Kamis (31/01/2023) lalu di Gedung DPRD NTT.
“Ditengah penghargaan-penghargaan yang diterima, Lembaga ini juga terus digerus dengan berbagai informasi berita melalui media tentang penggunaan-penggunaan anggaran maupun juga mekanisme dan system Bank yang tidak sesuai, termasuk adanya kegalauan mengapa deviden kepada Pemerintah Provinsi NTT justru menurun jauh. Ini juga dapat menimbulkan banyak pertanyaan-pertanyaan lanjutan serta dapat menimbulkan gangguan bagi kinerja Bank itu sendiri. Dan oleh karena itu DPRD mengingatkan Bank NTT untuk mengelola Bank ini dengan lebih sungguh dan berhati-hati,” tegas Nomleni sebagaimana yang dikutip dari berbagai media.
Menurut Ketua DPRD NTT, Bank NTT juga harus terus meningkatkan komunikasi dengan Pemerintah Provinsi NTT dan pemerintah Kabupaten-Kota se NTT sebagai pemegang saham untuk pemenuhan modal inti minimum 3 Trilyun bank NTT diakhir tahun 2024 untuk memenuhi syarat menjadi Bank Devisa.
Seperti diberitakan sebelumnya (13/01/2024), Laba Bersih Bank NTT terus anjlok dalam tiga (3) tahun terakhir, yakni sejak tahun 2019, 2020, dan 2021. Laba bersih tahun buku 2020 dan 2021 lebih rendah daripada laba bersih tahun 2019. Bahkan di tahun buku 2022 diduga bakal lebih rendah dari tahun-tahun sebelumnya. Walau laba bersih tersebut sangat jauh dari target Rp 500 M, namun mengapa Direktur Utama Aleks Riwu Kaho tak dicopot.
Berdasarkan investigasi media, Laba Bersih Bank NTT pada tahun 2019 sebesar Rp 236.475 juta (Rp 236,4 M). Perolehan Laba Bersih itu menjadi alasan pemberhentian Direktur Utama Bank NTT saat itu, Izhak Eduard Rihi. Menurut Gubernur VBL dalam jumpa pers usai RUPS-LB, pemberhentian itu karena Dirut Izhak Rihi tidak berhasil mencapai target Laba Bersih Rp 500 Milyar.
Padahal, salah satu penyebab anjloknya Laba Bersih Bank NTT tahun 2019 adalah penghapusan buku kerugian Medium Term of Note (MTN) PT. SNP sebesar Rp 50 Milyar yang digelontorkan Aleks Riwu Kaho (Kadiv saat itu, red) tanpa Due Diligent dan tanpa Juklak Penempatan modal di lembaga non-perbankan.
Namun dalam kenyataannya, Laba Bersih Bank NTT pada tahun buku 2020 di tahun pertama kepemimpinan Dirut Aleks Riwu Kaho hanya sebesar Rp 236.289 juta (236,2 M) atau lebih kecil Rp 189 juta dari laba bersih tahun 2019.
Laba bersih Bank NTT kembali anjlok di tahun buku 2021, yakni hanya sebesar Rp 228.268 (Rp 228,2 M) atau lebih kecil Rp 8.207 (Rp 8,207 M) dari laba bersih tahun 2019.
Bahkan pada tahun buku 2022, diduga Laba Bersih Bank NTT kembali anjlok karena rendahnya perolehan laba (sebelum pajak dan kewajiban lain, red) yang diumumkan Direksi Bank NTT yakni sekitar Rp 296 M. Jika angka ini dikurangi dengan pajak dan kewajiban lainnya, maka diduga laba bersih Bank NTT yang tahun 2022 tidak mencapai Rp 200 M.
Respon Anggota DPRD NTT Jonas Salean
Sementara itu, Ketua Komisi III DPRD NTT Jonas Salean menegaskan pihaknya mendukung penuh langkah Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTT dan Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Kupang mengusut dugaan korupsi di Bank NTT.
“Jelas kita dukung aparat penegak hukum usut tuntas dugaan korupsi di Bank NTT,” ujar Jonas Salean di Kupang, Selasa (24/1/2023).
Menurutnya, langkah penegak hukum mengusut dugaan korupsi di lembaga keuangan daerah Bank NTT adalah sudah tepat.
Sebab, pemeriksaan terhadap kasus dugaan korupsi di Bank NTT berdasarkan hasil temuan dari BPK.
Ia memberi contoh, terkait kasus Medium Term Note (MTN) yang diduga merugikan Bank NTT senilai Rp50 miliar dan juga kasus dugaan korupsi pemberian fasilitas kredit kepada Rahmad alias Ravi sebesar Rp5 miliar.
“Sekarang ini kejaksaan punya tugas. Mungkin kejaksaan masih mencari bukti-bukti. Komisi III sudah serahkan kepada aparat penegak hukum,” kata Jonas.
Mantan Walikota Kupang periode 2012-2017 ini mengatakan bahwa walaupun Bank NTT sering diterpa berbagai isu miring terkait dugaan kasus korupsi, Bank NTT selalu memanen penghargaan dari berbagai pihak.
Penghargaan kepada Bank NTT ini, menurut Jonas, tidaklah sebanding dengan apa yang diperoleh Bank NTT. Di mana dari hasil pemeriksaan OJK diketahui bahwa penggunaan dana operasional tidak sebanding dengan keuntungan perusahaan.
“Anehnya dia panen penghargaan terus. Dana operasional begitu tinggi. Hasil pemeriksaan OJK itu kan, penggunaan dana operasional tidak sebanding dengan keuntungan perusahaan,” terang Jonas.
“Hasil keuntungan tidak sesuai dengan program bisnis dari Bank NTT,” kata dia menandaskan.
Kenyataan ini sangat miris jika dibandingkan dengan semakin besarnya modal yang disetor para pemegang saham. Anjloknya laba bersih tersebut sudah pasti berimbas pada anjloknya deviden bagi para pemegang saham.
Fakta anjloknya laba bersih Bank NTT tersebut juga mematahkan argumentasi Para Pemegang Saham (Gubernur NTT dan Para Bupati/Walikota se-NTT) bahwa pencopotan tersebut disebabkan laba bersih Bank NTT tahun buku 2019 yang tidak mencapai Rp 500 M.
Jika benar bahwa alasan pencopotan Izhak Rihi sebagai Dirut Bank NTT (pada 6 Mei 2020, red) karena laba bersih yang tidak mencapai Rp 500 M maka seharusnya, Dirut Aleks Riwu Kaho juga dicopot oleh para pemegang saham karena perolehan laba bersih selama 2 tahun berturut-turut (2020-2021) yang tidak mencapai Rp 500 M.
Bahkan laba bersih di masa Dirut Aleks Riwu Kaho (2020-2021) lebih kecil dibandingkan laba bersih tahun buku 2019 yang dijadikan sebagai alasan pencopotan Izhak Rihi oleh Gubernur NTT, para Bupati/Walikota se-NTT dan para pemegang saham Seri B.
Lalu kenapa Dirut Aleks Riwu Kaho tidak dicopot dengan alasan yang sama? Apakah lantaran Aleks Riwu Kaho adalah ‘anak emas’ para pemegang saham? Atau ada sesuatu yang ingin ditutup-tutupi dibalik itu?










